Rafael dan anak-anak yang lain sedang mendapatkan arahan dari kuncen gunung itu. Agar mereka tak salah langkah, dan melanggar perturan yang ada.
“ Demi keselamatan bersama mari kita berdo'a menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Berdo'a, mulai..!!” tegas kuncen tersebut, semua nya saling menundudukan kepala dan berdo'a dengan khusyu. Bagaimanapun juga mereka tak ingin kenapa-napa nantinya.
“ Baik Rafael kamu pegang ini, bila ada apa-apa pada mereka kamu pergunakan ini sebagai obat dan pakaikan kalung ini kepada semua perempuan ” Rafael mengangguk dia menerima pemberian kuncen itu, sementara kalung langsung Rafael kasih kepada Rangga. Agar Rangga beri kepada para perempuan.
“ Terimakasih pak? ”Rafael menjabat tangan kuncen itu.
“ Hati-hati, kalau sedang darurat dan alat komunikasi kamu kehabisan daya isi kamu tau kan harus bagaimana? ” Rafael mengangguk dia mengatur barisan dan akan membuat 4 kelompok.
“ Satu tim 5 orang yah, jadi yang mimpin nanti saya, Rangga, Reza dan Morgan. Tim akan saya bagi secara berturut dan gak ada yang protes ” Rafael menekan setiap ucapannya. Dia bagi dengan sangat adil, walaupun Rafael mencintai Valery dia tak memilih satu tim dengan Valery. Yang berpacaran Rafael hanya membuat Morgan dan Chilla satu tim. Karena, ia tau mereka akan membuat rusuh bila di pisahkan dan pastinya merepotkan. Rafael sudah selesai membagi tim nya ia menyuruh tim pertama yang di mimpin Rangga agar terlebih dahulu berangkat. Di mana Rangga, David, Dimas, Rara dan Disti. Di susul tim ke dua, Morgan, Chilla, Valery, Ilham dan sekar. Tim ke tiga, Bisma, adelia, Reza, Salsa, Dicky. Dan tim empat Rafael, Feryn, Mala, Bobi, dan Rio.
•••
Perjalanan semakin jauh, langit terlihat mendung. Rafael menghubungi Rangga agar berhenti dan segera memasang tenda untuk mereka. Karena, hari sepertinya akan turun hujan. Memang tim pertama yang membawa perlengkapan tenda. Benar saja saat Rafael dan rombongannya sampai gerimis turun, para perempuan sedang sibuk menaburkan garam ke seliling tenda.
“ Lama banget lo Raf ” Rangga menghampiri Rafael. Rafael hanya tersenyum dan melepaskan ranselnya. Dia sedikit tertawa saat melihat Morgan dan Chilla yang saling suap-suapan makan pop mie berdua.
“ Udah biasa kan mereka? Mending lo masukin ransel lo ke tenda khusus penyimpanan mereka udah pada naro ” Rafael mengangguk dan mengikuti saran Rangga.
“ Satu tenda 2 senter, kalian ada senter semua kan? ” Rangga bertanya, mereka semua mengangguk. Rangga sudah membagi nya satu tenda berisi 4 - 6 orang.
“ Ayo cepat masuk ke tenda, dan makan bekal kalian. Oh ya jangan ada yang keluar sampai besok pagi ” Rafael memperingati semua siswa. Karena hujan sudah mulai turun.
“ Ka Rafa ganggu aja padahalkan lagi sosweet sama my baby ku ” Chilla mengerucutkan bibirnya. Valery yang sedang merapikan tempat tidur hanya terkekeh kecil. Karena kalau ia menjawab pasti bakal panjang ceritanya.
“ ka Mala lagi apa? ” tanya Valery kepada seniornya, Mala hanya tersenyum dan kembali melanjutkan aktifitasnya. Sementara Sekar dia sudah tertidur dari tadi. Valery pun ikut tidur.
Malam semakin sunyi, hujan sudah mulai reda. Hanya bunyi hewan-hewan kecil yang terdengar seperti jangkrik, dan semacamnya. Chilla terbangun dari tidurnya dia ingin pipis.
“ Ve bangun, ” Chilla menggoyangkan tubuh Valery. Valery membuka matanya dan “ aaaaaa ” dia kaget saat melihat wajah Chilla.
“ Ih valery bangun ” Chilla kembali membangunkan Valery, Valery menarik nafasnya panjang ternyata Chilla hanya memakai masker.
“ Apaan sih? ” Valery mengucek matanya.
“ Chilla mau pipis anter dong ” Chilla membenarkan rambutnya.
“ Telp Morgan ke, ah ngantuk nih ” Chilla membangunkan sekar. Karena, tak mungkin dia menghubungi Morgan yang super kebo.
“ Apaan sih Chill? ” Sekar terbangun.
“ Anter pipis ” Sekar pun bangun dan keluar.
“ Valery tendanya seletingin lagi aku sama sekar mau pipis ” Chilla membawa senter dan berlalu keluar. Dengan sangat malas Valery kembali menutup tendanya. Namun, jantungnya berdebar begitu kencang saat ia melihat bayangan hitam dari luar tenda. Segera Valery berbaring dan menutupi mukanya dengan selimut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar